Monday, 22 December 2014

Penganan Khas Pulau Sumba Itu Mulai Tergeser


Manggulu, salah satu penganan khas Pulau Sumba
Manggulu. Demikian sebutan untuk salah satu jenis makanan khas daerah yang sudah dikenal secara turun temurun dari para leluhur orang Sumba Timur, di Pulau Sumba. Mungkin kedengarannya agak sedikit asing bagi Tuan dan Puan, namun ssejujurnya jenis makanan khas yang dibungkus daun pisang kering ini sangat lezat rasanya.

Tuan dan Puan, Manggulu adalah salah satu jenis penganan khas daerah di Pulau Sumba yang terbuat dari kacang tanah dan pisang. Ukurannya kecil dan bentuknya pun mirip dodol. Meskipun kedua jenis makanana ini mirip, namun  tetap tidak sama baik rasa maupun kemasan. Namanya juga makanan khas, kalau sama rasa dan kemasan maka tidak akan khas lagi.  

Sesungguhnya penganan khas daerah yang satu ini tidak kalah lezatnya. Sayangnya jenis penganan lokal Sumba Timur itu sudah jarang ditemukan. Hanya di beberapa wilayah yang masyarakatnya masih membuat produk tersebut. Itu pun hanya pada waktu – waktu tertentu dan jumlahnya pun terbatas di Pulau Sumba Tuan  dan Puan.

Dalam kemasan aslinya, Manggulu dibungkus dengan daun pisang kering. Bagi orang Sumba, daun pisang kering memiliki nilai pengawet. Sayangnya, belakangan daun pisang mulai ditinggalkan dan diganti dengan kemasan modern seperti plastik. Keasliannya sebagai penganan khas yang sehat serta ramah lingkungan karena tidak mengandung unsure kimia itu mulai terancam.

Jika Tuan dan Puan sempat mengunjungi Pulau Sumba, Manggulu saat ini memang masih ada di daerah itu terutama Sumba Timur. Namun keberadaannya mulai tergeser oleh penganan dari luar. Selain karena produksinya terbatas, perubahan gaya hidup masyarakat setempat pun turut mempengaruhi eksistensi produk tersebut. Keterbatasan produksi disebabkan oleh proses pembuatannya yang cukup memakan waktu.


Biasanya, pisang kapok masak harus dikeringkan terlebih dahulu. Sementara kacang tanah digoreng kemudian diangkat kulit arinya. Pisang yang sudah dikeringkan kemudian kemudian ditumbuk. Demikian juga kacang tanah yang sudah digoreng. Selanjutnya, kedua bahan yang sudah dihaluskan ini dicampur dan dibentuk. Jika cara tradisional pembentukan Manggulu menggunakan tangan, maka belakangan pencampuran dan pembentukannya kini beralih menggunakan mesin penggiling.

Saat ini Manggulu memang masih bisa ditemukan di Sumba Timur, namun hanya di wilayah – wilayah tertentu saja. Di Kota Waingapu juga ada sejumlah industry rumah tangga yang membuat Manggulu. Itupun produksinya tidak banyak dan sangat terbatas, selain karena kekurangan modal usaha, akibatnya Menggulu jarang ditemukan di toko kue. Jikalau ada, jumlahnya sangat terbatas. Itupun jarang laku terjual karena Manggulu sebagai cirri khas daerah seakan tenggelam di antara penganan dari luar.

Tuan dan Puan, selain kacang Sumba yang dikenal memiliki karena kekhasan rasanya,  Sumba Timur juga kaya akan penganan lokal. Namun harus diakui karena gaungnya kalah dengan penganan dari luar. Kemasan dan tampilan yang lebih menarik, pergeseran pola hidup masyarakat setempta juga turut mempengaruhi eksistensi Manggulu sebagai penganan lokal.


Beta melihat, masyarakat Sumba Timur akan merasa lebih berkelas jika menenteng donat atau roti dengan kemasan yang menarik daripada Manggulu dengan kemasan daun pisang kering. Mungkin ini juga disebabkan oleh pengaruh promosi dan pencitraan pangan lokal yang masih terbatas. Akibatnya, menyebabkan penganan ini tidak banyak dilirik oleh masyarakat Sumba Timur.

Tuan dan Puan, Manggulu memang belum terkenal seperti kacang Sumba. Jangankan untuk masyarakat luar, generasi muda Pulau Sumba saja bahkan sudah ada yang tidak mengenal Manggulu. Padahal kalau diperkenalkan terus – menerus, Manggulu bisa menjadi penganan yang diminati banyak orang karena rasanya khas. (*)
Post a Comment