Tuesday, 28 March 2017

Motif Kain Tenun Ikat Sumba Timur


John Taena/Kain Pahikung
 Kain Pahikung dengan Motif Mamoli ini usianya sudah di atas 30 tahun.   
Nilainya Bisa Mencapai Puluhan Juta
KAIN tenun ikat Sumba Timur boleh dikata cukup mahal. Pasalnya setiap lembar motif kain yang dijual oleh para pengrajin bisa mencapai Rp 5 juta.
Penggunaan bahan alami dalam proses pembuatan kain adalah salah satu alasan yang nilai jual motif kain tenun ikat di daerah itu terlampau mahal.
"Kenapa kita pakai bahan alami? Karena kain tenun ikat juga kami pakai untuk membungkus dan mengawawetkan jenasah," demikian Umbu Rihi (44), warga Kampung Kalu, RT 15, RW 05, Kelurahan Prailius, Kecamatan Kambera, Sumba Timur.
Menurut Dia,  setiap motif yang dilukis dalam lembaran-lembaran kain tenun ikat daerah itu memiliki maknanya masing-masing. Salah satu contohnya adalah mengisahkan tentang proses pemakaman raja-raja di daerah itu.
"Misalnya cerita tentang penguburan raja-raja mulai dari proses awal kematiannya bisa dilukiskan dalam sebuah kain. Motif yang dilukis itu bisa menceritakan."
Para pengrajin di daerah itu, lanjutnya, membutuhkan waktu paling cepat empat hingga lima bulan untuk menghasilkan satu lembar kain motif tenun ikat.
Proses pembuatan motif kain tenun ikat setempat yang membutuhkan waktu cukup lama itu disebabkan oleh masalah bahan. Para pengrajin tidak mau menggunakan produk pabrik.
"Semua bahan yang dipakai itu alami. Tidak ada yang pakai produk pabrik makanya proses pembuatan kain tenun ikat itu lama. Misalnya benang, kita pintal benang sendiri. Untuk pewarna pakai bahan alami dan harus direndam berhari-hari supaya menghasilkan hasil yang berkualitas," tandasnya.

Rata-Rata Setahun Hanya Dua Lembar Kain yang Dihasilkan Seorang Penenun
John Taena/Proses
Prose pembuatan kain tenun oleh salah seorang pengrajin motif kain tenun ikat di Kampung Kalu, Kelurahan Prailiu, Kecamatan Kambera, Sumba Timur 
Semakin banyak hasil produksi sebuah kain tenun ikat, semakin juga penghasilan yang didapat oleh seorang pengrajin kain tenun ikat di sebuah daerah.
Namun hal ini tidak berlaku bagi warga Kabupaten Sumba Timur yang hanya bisa memproduksi dua lembar kain setiap tahun.
Dua orang pengrajin kain tenun ikat di Kampung Kalu, RT 15, RW 05, Kelurahan Prailiu, masing-masing, Mbitu Mbombu (39) dan Umbu Rihi (44), mengisahkan proses pembuatan motif kain tenun ikat di daerah itu tergolong sulit. Pasalnya tidak semua orang mampu membuat dan memproduksi motif kain tenun ikat khas daerah setempat.
"Keluarga kami itu semua bisa tenun ikat, baik itu laki-laki maupun perempuan. Kita bisa buat kain karena memang dari leluhur mereka yang wariskan," jelas Umbu Rihi (44), saat ditemui Pos Kupang.com, di kediamannya, Sabtu (18/3/2017).
Setiap anggota keluarga mereka, lanjut Umbu Rihi, memiliki talenta masing-masing dalam membuat kain tenun ikat. Ada orang yang khusus melukis motif, ada juga yang khusus untuk pewarnaan dan tenun ikat.
"Saya hanya bisa ikat dan tenun, kalau untuk lukis motif itu kakak saya. Sedangkan yang biasanya membuat warna itu kami punya mama karena dai yang ahli. Jadi kami bagi-bagi tugas," ujarnya.
Hal senada dikatakan oleh pengrajin kain tenun ikat lainnya di Kampung Kalu, Mbitu Mbombu (39). Dia menjelaskan, rata-rata setiap tahun hanya bisa menghasilkan dua lembar kain. Pasalnya proses pembuatan motif kain tenun ikat khas daerah itu membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Semua bahan dari alam yang kita pakai jadi memang proses pembuatannya cukup lama. Satu lembar kain itu bisa makan waktu empat sampai lima bulan baru jadi. Kalau dijual itu lima juta per lembar," tandasnya.

Setiap motif yang Dipakai Pengrajin Sumba Memiliki Maknanya Masing-Masing
John Taena/Pengrajin
Proses pembuatan motif kain tenun oleh pengrajin di Kampung Kalu, Kelurahan Prailiu, Kecamatan Kambera, Sumba Timur
Sejumlah motif pada kain tenun ikat seperti gajah, tengkorak, manusia, ayam dan motif kuda, yang terdapat pada setiap kain tenun ikat daerah itu tidak sembarang dibuat oleh para pengrajin.
Setiap motif yang tertara pada kain tenun ikat Sumba Timur, bukan tanpa alasan atau asal dibuat.
Pasalnya setiap daerah di wilayah Sumba Timur memiliki ceritera dengan makna masing-masiang terhadap motif kain tenun ikatnya.
 "Ada banyak sekali motif di Sumba Timur, dan setiap motif ada maknanya masing-masing. Ada jalan ceriteranya, bukan asal dibuat motif," demikian Bupati Gidion Mbiliyora, di ruang kerjanya.
Lebih lanjut Dia mengatakan, motif pada kain tenun ikat asal daerah itu sudah berkembang sejak dahulu. "Ada jalan ceritanya begitu. Ada maknanya masing-masing," ujarnya.
Harga kain motif tenun ikat di daerah itu, terang Gidion, pada umumnya mulai berkisar dari Rp 500 ribu ke atas. Walaupun ada juga yang bisa dibeli dengan harga murah atau sekitar Rp 300 ribu per helai.
"Dapatlah Rp 300 ribu, tapi yah, itu kualitasnya sudah yang ke berapa kan begitu. Pada umumnya cukup mahal di atas satu juta apalagi yang sudah lama sekali produksinya itu mahal sekali. Bisa puluhan juta," tandasnya.

Kenapa Harga Kain Sumba Mahal? Ini Penjelasan Bupati Gidion
John Taena/Motif
Gajah merupakan salah satu motif yang dipakai pada kain Pahikung oleh para pengrajin di Sumba Timur. Usia kain yang sudah di atas 30-an tahun ini dijual dengan harga Rp 20-an juta
Motif  kain Sumba Timur pada umumnya mahal harganya. Meskipun demikian ada juga yang bisa dibeli dengan harga murah, namun hal itu tidak menjamin kualitas bahan yang dipakai.
Pengrajin kain tenun ikat dari daerah itu tidak menggunakan bahan produk pabrik seperti benang dan pewarna untuk berbagai jenis motif kain tenun ikat di daerah itu.
Hal ini juga yang menjadi alasan mengapa proses pembuatan motif Sumba Timur membutuhkan waktu cukup panjang.
Penggunaan bahan alami dan proses pembuatan yang lama, menjadi salah satu alasan mengapa harga selehai kain Sumba Timur, bisa dijual dengan nilai satu juta rupiah ke atas.
Selain motif khas daerah setempat, faktor usia produksi juga dapat menentukan harga jual sebuah kain. Semakin tua usia produksi sebuah kain, semakin tinggi nilai jualnya.
"Pada umumnya cukup mahal di atas satu juta apalagi yang sudah lama sekali produksinya itu mahal sekali. Bisa puluhan juta," jelas Bupati Gidion Mbiliyora, saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (24/3/2017).
Selengkapnya tonton vidio penjelasan Bupati Gidion Mbiliyora.

Sunday, 26 March 2017

Kisah di Balik Motif Kain Tenun Ikat Sumba Timur

Motif kain tenun Sumba Timur/John Taena  
SELAIN untuk membungkus dan mengawetkan jenasah, pengrajin tenun ikat Sumba Timur juga dapat mengisahkan proses terjadinya sebuah peristiwa dilingkungan sekitar. Kematian seorang raja tentu akan menarik perhatian khalayak umum.

Banyak orang akan bertanya-tanya dan mencari tau proses kematian sang raja sejak awal hingga saat hendak dimakamkan.

Di Kabupaten Sumba Timur, warga setempat akan memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu lewat setiap motif yang diukir pada sebuah kain tenun ikat. Mulai dari proses awala kematian hingga menjelang pemakamannya.

"Cerita tentang penguburan raja-raja mulai dari proses awal kematiannya bisa dilukiskan dalam sebuah kain. Motif yang dilukis itu bisa menceritakan,” ujar Umbu Rihi (44), warga Kampung Kalu, RT 15, RW 05, Kelurahan Prailius, Kecamatan Kambera, Sumba Timur.

Ketika ditemui di kediamannya, Sabtu (18/3/2017), Rihi mengatakan, proses pembuatan motif kain tenun ikat setempat membutuhkan waktu yang cukup lama.

Salah satu faktor penyebabnya adalah penggunaaan bahan alami yang masih tetap dipertahankan hingga saat ini.

"Empat sampai lima bulan baru kita bisa dapat satu kain. Karena memang semua bahan yang digunakan itu alami. Misalnya benang, benang bukan produksi pabrik tapi kita pintal sendiri. Begitupun dengan bahan untuk pewarna itu semua alami," terangnya.

Kain tenun ikat Sumba Timur memiliki banyak nilai, baik itu ekonomis maupun historis. Maka tak heran setiap lembar kain bisa dibanderol hingga lima juta rupiah.

"Kenapa kita pakai bahan alami? Karena kain tenun ikat juga kami pakai untuk membungkus dan mengawawetkan jenasah," tandasnya.*

Pesona Pasir Putih di Pantai Walakiri Sumba Timur

Pantai Walakiri, Sumba Timur
Cemara dan Pohon Kelapa yang tumbuh di sepanjang pesisir pantai, akan selalu memanjakan mata setiap pengunjung Pantai Walakiri, Kecamatan Pandawai, Sumba Timur. Lokasi salah satu obyek wisata alam yang dilengkapi dengan mangrove khasnya karena seperti bonsay menjadi salah satu spot favorit wisatawan di daerah itu.
Pasir Putih di Pantai walakiri adalah karya ilahi yang perlu dilestarikan. Hal ini seperti yang disaksikan John Taena, saat berkunjung ke lokasi itu, Kamis (9/3/2017) petang. Menikmati hari libur atau akhir pekan dengan berwisata ke sebuah pantai, tak jarang menjadi pilihan sebagian orang.
Pantai merupakan salah satu obyek wisata alam yang merakyat, karena tidak membutuhkan biaya besar.
Walakiri adalah salah satu pantai di wilayah Kabupaten Sumba Timur yang tidak kalah menarik dengan daerah lain.
Hamparan pasir putih dan gulung gemulung ombak kecil, yang selalu bersahabat dengan setiap pengunjung, menawarkan liburan yang menyenangkan.
Tidak hanya sebatas itu, di pantai Walakiri, pengunjung disuguhkan pemandangan sunset nan elok di ufuk barat dan dengan deretan tanaman mangrovenya yang khas.
Mangrove atau yang lebih bersahabat di telinga warga setempat dengan sebutan bakau, terlihat begitu elok karena berbentuk seperti sebuah pohon bonsay.
Sumba Timur merupakan salah satu daerah di negeri ini yang kaya akan pesona pantai.
Hamparan pasir putih yang membentang luas sepajang garis pantai, pasti akan ditemui setiap orang ketika berlibur ke obyek wisata pantai, di daerah ini. 

VIDEO: Nonton ini, Kincir Angin dan Pesona Alam Pedalaman Sumba Timur

Laporan wartawan Pos Kupang, John Taena

Wednesday, 4 January 2017

Negara Kalah Menghadapi Ancaman Intoleransi


"Ketika bom meledak di Thamrin, Presiden Jokowi hadir dan mengatakan bahwa negara tidak boleh kalah. Tapi kenapa pada hal -hal tertentu negara kalah dalam menjamin kebesan beragama?"


POS KUPANG/JOHN TAENA
WORKSHOP — Para peserta dan narasumber dalam kegiatan workshop media bertajuk ‘Merawat Keberagaman dan Toleransi Melalui Pemberitaan’ di Aula LPP RRI Kupang. Selasa (1/3/2016)

MEDIA adalah sebuah entitas yang sangat berkuasa untuk menciptakan sebuah peristiwa sebagai kebenaran atau sebaliknya. Media juga mempunyai kuasa untuk menunjukan hitam putihnya sebuah peristiwa atau persoalan.

Hal ini diakui Program Manager Serikat Jurnalis untuk Keberagaman, Tantowi Anwari, dalam workshop media yang bertajuk `Merawat Keberagaman Dan Toleransi Melalui Pemberitaan' di aula LPP RRI Kupang, Selasa (1/3/2016). 
Tantowi Anwari sebagai pembicara bersama Kepala RRI Kupang, Enderiman Butar  Butar  SP.MSI, Pemred Harian Kursor, Ana Djukana dan Wakil Sekretaris PWI NTT, Ferry Jahang dan moderatornya Kepala Bidang Pemberitaan RRI Kupang, Ekleopas Leo.

Menurut Tantowi, lewat kekuatan yang dan pengaruh yang dimiliki itu, media masa bisa menunjukan kepada publik tentang, mana yang benar dan yang salah.

"Implikasinya bisa sangat berbahaya dan juga bisa menguntungkan. Bisa membuat sebuah persoalan menjadi baik atau lebih runyam dari yang dibayangkan orang. Itulah media massa," katanya.

Dewasa ini, katanya, korban kekerasan atas nama agama dan berkeyakinan saban hari bukan berkurang melainkan terus meningkat.

Kini sudah saatnya bagi para jurnalis untuk mengangkat pena dan menggoreskan tinta emasnya, untuk menyuarakan keadilan dan kebebasan beragama dan berkeyakinan.

"Artinya kalau media hanya melihat dan diam saja itu sama dengan membiarkan intoleransi terus terjadi di masyarakat. Kasusnya juga akan meluas, ini berdasarkan hasil pemantauan dari 2007 sampai sekarang," ujar Anwari.

Berbagai pemberitaan yang cenderung kurang berpihak kepada kelompok minoritas akhir -akhir ini cukup memrihatinkan. Hal ini mulai nampak ketika Fatwa MUI pada tentang penyesatan Ahmadyah pada tahun 2005 diikuti penutupan gereja -gereja di Jawa Barat dan Jakarta.

Kekerasan dan intimidasi terhadap kaum minoritas yang dianggap berbeda terus menerus terjadi di mana -mana. Tak jarang komunitas atau kelompok minoritas itu mendapat diskriminasi dari pihak mayoritas juga pemerintah.

“Sekarang kita harus mengatakan bahwa kebebasan beragama itu adalah isu yang harus diangkat media. Kenapa isu ini dianggap penting, karena korban kekerasan atas nama agama dan berkeyakinan ini bukan berkurang, tapi malah terus bertambah dari waktu ke waktu."

Cover bot side sebagai prinsip jurnalistik tidak relevan lagi dalam kasus -kasus demikian. Kehadiran media dan para jurnalis tidak lagi hanya sebatas netral tapi harus memihak dan memberi ruang yang lebih kepada korban.

"Kita harus memberikan ruang yang banyak kepada kelompok minoritas yang menjadi korban. Teori jurnalistik tentang pemberitaan secara berimbang, itu kami tantang. Apakah dengan fakta -fakta demikian media hanya merasa cukup dengan berimbang?" katanya.

Kepala RRI Cabang Kupang, Enderiman Butar  Butar  SP.MSI menegaskan, lembaga yang dipimpinnya terus menggelorakan keberagaman dan toleransi. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai acara yang disiarkan secara rutin di RRI dengan mengikutkan semua agama di Indonesia.

Misalnya hari minggu menyiarkan secara langsung kebaktian di gereja Katolik dan Protestan. "Begitu juga untuk teman- teman yang beragama lainnnya," kata Enderiman.

Pemimpin Redaksi Harian Kursor, Ana Djukana, mengatakan sebagai salah satu tonggak penegak demokrasi di negara ini, katanya, pers harus terus memperkuat perannya dalam mengawasi dan mengingatkan kewajiban negara untuk  menghormati, melindungi dan memenuhi hak serta kebebasan paling dasar  dari setiap warga Negara untuk beragama dan berkeyakinan.

"Misalnya kelompok LGBT yang dianggap tidak sesuai ajaran agama ini dan itu, maka kita harus menggunakan pendekatan hak asasi manusia. Kita kadang memberikan ruang yang seluas -luasnya kepada narasumber, yang justru mendukung intoleransi," katanya.

Wakil Sekretaris PWI NTT, Ferry Jahang, mengatakan, Undang -undang pers, Nomor 40 tahun 1999, yang kemudian dijabarkan ke dalam kode etik masing -masing organisasi adalah acuan bagi para wartawan Indonesia dalam menjalankan tugasnya.

Ketika menjalankan tugas dan fungsinya, para wartawan harus berdiri di atas asas yang disebut dengan hak asasi manusia.

Terkait diksi yang digunakan media dalam pemberitaan manakala terjadi perseteruan antara kelompok mayoritas dan minoritas maka pers seharusnya berada pada posisi korban.

Dikatakanya, "Kalu dilihat dari apa yg terjadi selama ini, media atau perss itu sudah mengarah dan bergerak ke sana hanya memang tidak semuanya."

Kekuatan media juga tak jarang dijadikan sebagai alat propaganda. Salah satu contoh kasus adalah peristiwa kerusuhan di Ambon, Propinsi Maluku yang nyaris tak kunjung usia. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh pemberitaan media masa. Pasalnya, terdapat perusahaan tertentu yang menciptakan dua media untuk dua kelompok yang bertikai.

"Ini terjadi karena negara memang tidak hadir sebagai penengah atau pemegang aturan yang benar untuk menengahi persoalan itu. Begitu juga dengan berbagai  persoalan lain yang terjadi di negara kita," ujarnya.

Negara sebagai pemegang kekuasaan sudah mulai menunjukan langkah -langkah positif pada kasus tertentu. Hal ini terlihat pada peristiwa bom Thamrin di Jakarta beberapa waktu lalu. 

"Ketika bom meledak di Thamrin, Presiden Jokowi hadir dan mengatakan bahwa negara tidak boleh kalah. Tapi kenapa pada hal -hal tertentu negara kalah dalam menjamin kebebasan beragama?" sambungnya. (john taena)

Sumber: Pos Kupang Cetak Edisi 5 Maret 2016, hal 5

Tuesday, 15 November 2016

‘Agama Bola’ di Sumba Menolak Paham Radikal





Pembukaan Turnamen Sepak Bola Antar Umat Beragama Sedaratan Sumba ke XV, di Lapangan Matawai, Waingapu dibuka Assisten I, Sumba Timur, Domu Warondoy. Partai pertama dalam even tahuna ini adalah Remas An-Nur, Waingapu, Sumba Timur vs Pemuda GKS Waibakul, Sumba Tengah. Selasa (15/11/2016)
Turnamen sepak bola antar umat beragama, telah menjadi agenda tahunan bagi seluruh masyarakat Sumba. Menyongsong hari raya Natal dan tahun baru yang demikian semula digagas oleh sekelompok pemuda jemaat Payeti, Waingpau,  Geraja Kristen Sumba (GKS).

Niat untuk membina kerukunan lewat dunia olah raga itu, semula diprotes dari sejumlah oknum tokoh dan pemuka agama setempat. Sepak bolah dinilai sebagai salah satu jenis olahraga bisa memicu konflik antar pemuda.

Menuai protes namun para pemuda itu tidak menyerah. Mereka terus berupaya dan meyakinkan semua pihak. Turnamen sepak bola antar umat beragama pun akhirnya terlakasana. Seiring perjalan waktu, jenis olahraga itu dijadikan sarana pemersatu sesama pemeluk agama.

Perebutan piala bergilir setiap tim sepak bola terus bergulir dari tahun ke tahun. Lapangan hijau telah mejadi sebuah rumah ibadah setiap tahun bagi setiap pemeluk agama yang ada.

Ribuan umat Kristen Protentan, Katolik Islam, Hindu dan Budha berkumpul bersama. Selain datang untuk mendukung tim kesayangan masing-masing, mereka juga dapat membangun komunikasi, membina kerukunan dan toleransi antar sesama.

“Usia turnamen ini sudah memasuki tahun yang ke-XV. Hanya ada satu pesan yang ingin kita sampaikan yaitu, harmonisasi dan kerukunan antar umat beragama,” jelas ketua panitia turnamen sepak bola antara umat beragama sedaratan Sumba ke-XV, Debertus Nd. Ndima, di lapangan Matawai, Waingapu, Selasa (15/11/2016).

Turnamen itu biasanya dibuka dengan sebuah ritual dalam upacara pembukaan. Ritual ‘agama bola’ itu wajib dilakukan sebelum turnamen dinyatakan resmi dibuka. Entah pemain ataupun penonton, wajib hukumnya untuk ritual itu.


Kesebelasan pemuda lintas agama saat upacara pembukaan Turnamen Sepak Bola Antar Umat Beragama Sedaratan Sumba ke-XV, di lapangan Matawai, Waingapu, Sumba Timur. Selasa (15/11/2016)
Tujuan ritual itu adalah untuk menjaga kerukunan dan toleransi antar sesama pemeluk agama sedaratan Sumba. Ritual ‘agama bola’ ala orang Sumba itu dikenal dengan sebutan deklarasi damai dan kehidupan yang harmonis.

Salah satu alasan yang paling mendasar adalah, semua orang adalah satu di rumah ibadah bersama itu. Selain itu ajaran ‘agama bola’ menolak paham radikalisme. Pasalnya radikalisme mengancam dan bisa merusak kerukunan antar umat beragama sedaratan Sumba.

Ada empat point di dalam ajaran “agama bola” yang selalu diucapkan bersama-sama setiap kali upacara pembukaan turnamen Sepak Bola Antar Umat beragama sedaratan Sumba.

Isi keempat hukum ajaran ‘agama bola’ itu antara lain; (1). kami pemuda lintas agama sumba menjunjung tinggi nilai-nilai kebhinekaan, dan sanggup menjaga kerukunan dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bermasyarakat di Pulau Sumba berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 45.

(2). Kami pemuda lintas agama Sumba sanggup untuk menciptakan suasana damai, dan menghargai perbedaan keyakinan serta ajaran agama masing-masing, dalam rangka menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

(3). Kami pemuda lintas agama Sumba, menolak semua bentuk paham radikalisme yang mengatasnamakan agama, dan dapat mengancam serta menimbulkan perpecahan.

(4). Kami pemuda lintas agama sumba selalu menjaga nilai-nilai keberagaman sesuai dengan nilai-nilai bidaya lokal kami yang ada di Bumi Matawai Amahu Pada Njara Hamu, Bumi Padda Ewata Manda Elu, Bumi Tana Waikanena Loku Waikalala dan Bumi Loda Wee Maringi Pada Wee Malala.

Usai melaksakan ritual itu, perwakilan Pemuda Kristen Protestan, Pemuda Katolik dan Pemuda Islam. Perwakilan Pemuda Hindu dan dan Pemuda Denominasi Gereja Protestan, akan menandatangi deklarasi damai seperti yang terjadi pada Selasa (15/11/2016).  

“15 tahun lalu, kami dari pemuda GKS Payeti mencetuskan ide untuk turnamen sepak bola antara umat beragama itu memang ditantangan tapi kami berusaha meyakinkan para tokoh. Syukurlah sampai sekarang terus dilaksakan setiap tahun,” tutur Sekretaris Pemuda Sinode Geraja Kristen Sumba, Nikson D. R. Tana.

Di dalam lapangan hijau, bola akan digiring ke semua arah oleh para pemain. Namun hanya merujuk pada satu tempat yakni, ke kotak 16, 12 dan akhirnya ke dalam gawang. Saat berhasil menjebol gawang lawan, para pemain di dalam lapangan maupun penonton di luar lapangan akan melakukan selebrasi. Sementara pihak yang kebobolan akan menunjukan ekspresi kesedihan.  

Hal serupa juga akan terjadi ketika puncak even yang menghasilkan sebuah tim pemengan. Juara turnamen tentunya hanya satu tim kesebelasan, namun pesta kemengan akan dirayakan bersama-sama. Pasalnya hakekat dari even itu bukan mencari sang juara, melainkan nilai kebersamaan.

“Kami dari Remas At-Taqwa Kamala Putih, sudah pernah memegang piala bergilir Turnamen Sepak Bola Antar Umat beragamna di Sumba ini selama tiga tahun berturut. Keyakinan tidak bisa memisahkan hubungan kekeluargaan dan kerukunan kita,” sambung Abdul Haris, ST, anggota DPRD Sumba Timur dari Partai Hanura.
  

Perwakilan dari setiap pemeluk agama menanda tangani deklarasi damai dalam Turnamen Sepak Bola Antar Umat Beragama Sedaratan Sumba ke-XV, di lapangan Matawai, Waingapu, Sumba Timur. Selasa (15/11/2016)
Bagi orang Sumba, toleransi dan kerukunan antar umat akan tetap terpelihara dengan baik. Perberbedaan keyakinan memang tidak bisa dipungkiri di mana-mana. Semua orang bebas beribadah sesuai keyakinannya di rumah ibadahnya masing-masing.

Namun ketika “agama bola” memanggil, semua pemuda dari berbagai keyakinan akan berkumpul darimenjadi satu dalam sebuah rumah ibadah. Rumah ibadah yang disebut lapangan hijau itu akan dipadati setiap hari sore.

“Kehidupan orang Sumba itu harmonis. Hubungan baik yang ada itu dikarenakan adanya kawin mawin. Boleh berbeda keyakinan tapi hanya satu yaitu ‘agama bola’ yang ada kalau  kita sudah masuk di lapangan. Silakan datang studi banding tentang toleransi antar umat beragama,” tandasnya. (*)